TARI SEBLANG, RITUAL BERSIH DESA SUKU OSING BAYUWANGI  DIBANTU ROH LELUHUR (DHAYANG)

PROLOG

Banyuwangi, wilayah paling ujung timur pulau jawa ini seolah tak pernah lepas dari hal klenik yang memayungi segala aspek dalam kehidupan bermasyarakatnya. Terlihat, dari ragamnya seni budaya dan tradisi yang masih kental hubungannya dengan roh para leluhur. Di Banyuwangi, Masyarakat suku Osing di Desa Bakungan dan Desa Olehsari kerap melakukan tradisi ritual Seblang dengan tujuan bersih desa dan memohon ketentraman sekaligus sarana  sedekah desa. Source: Almira Puspita Yashi, RITUAL SEBLANG MASYARAKAT USING DI KECAMATAN GLAGAH, KABUPATEN BANYUWANGI, JAWA TIMUR, dalam Jurnal Haluan Sastra Budaya, Volume 2, No. 1 Juni 2018). Semula Tari Seblang muncul pada tahun 1930, di masa depresi ekonomi negara jajahan. Rakyat yang terpuruk dengan jatuhnya harga ekspor hasil pertanian kemudian menginisiasi hiburan rakyat melalui seni Tari ini. Para penari gadis-gadis oseng yang belum baliq (belum menstruasi sehingga dianggap masih suci) dijadikan sebagai media ritual berkomunikasi dengan dhayang atau lelembut.

TRADISI DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT SETEMPAT

Tari Seblang merupakan tradisi tua yang pada dasarnya adalah sebuah tarian khas suku Osing di Desa Olehsari. Masyarakat Osing mempercayai Seblang berasal dari singkatan “Sebele Ilang” yang artinya sialnya hilang. Maka dari itu, tarian ini dipercayai oleh masyarakat sekitar secara turun temurun, sebagai sebuah tradisi unik yang digelar dalam rangka bersih desa dengan tujuan untuk menolak bala, penyakit, dan hal buruk lainnya. Suku Osing atau biasa diucapkan Jawa Osing adalah penduduk asli Banyuwangi atau juga disebut sebagai Laros (akronim daripada Lare Osing) atau Wong Blambangan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi.

Sebelum ritual Tari Seblang dilakukan, semalam sebelumnya masyarakat desa menggelar selamatan yang diikuti oleh seluruh warga. Pelaksanaan ritual Tari Seblang dilakukan selama 7 hari pada waktu yang sama, biasanya siang hingga sore hari. Hari terakhir menjadi hari yang paling unik, karena terdapat prosesi Seblang Idher Bumi yang dilakukan keliling kampung. Disamping itu, penari Seblang tak boleh sembarangan dipilih. Penarinya haruslah yang memiliki garis keturunan langsung dari penari sebelumnya dan dipilih melalui sebuah ritual magis, dimana ada seorang tokoh adat yang akan dirasuki roh leluhur dan menunjuk langsung penari Seblang.

Prosesi ritual Tari Seblang, biasanya digelar di tengah desa. Diawali dengan membawa penari ke lokasi pertunjukkan, untuk memasang mahkota unik yang disebut Omprok. Omprok sendiri terdiri dari pelepah pisang yang disuwir-suwir layaknya rambut. Bagian atasnya berhias bunga-bunga yang diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman. Meski tak terlihat, sebuah kaca kecil diletakkan di bagian tengah mahkota. Setelah mahkota terpasang, barulah alunan musik Gending Lukito ditabuh, sebagai pertanda undangan untuk para arwah leluhur hadir di ritual Tari Seblang. 

Mata penari Seblang ditutup sambil memegang nampan bambu yang disebut Tempeh. Kemudian sang pawang akan membawa tungku kecil berisi kemenyan dan kepulan asap, sembari mengucapkan mantra. Ini adalah rangkaian ritual wajib agar roh leluhur masuk ke dalam tubuh sang penari. Untuk memastikan roh sudah masuk, sang pawang hanya perlu menggerakkan tubuh penari ke kanan dan ke kiri. Apabila Tempeh yang dipegang jatuh dan tubuh penari terjungkal ke belakang, itu adalah pertanda bahwa penari sudah kerasukan roh leluhur dan pertunjukkan pun dimulai. 

Penari yang sudah kerasukan tersebut akan mulai menari dan berkeliling ke arah penonton dengan mata terpejam mengikuti arahan dari sang pawang. Dengan iringan gendhing dan keadaan tak sadar, penari berlenggak-lenggok  menggerakkan selendangnya. Dipertengahan tarian, sang penari akan melempar selendangnya secara acak ke arah penonton. Bagi penonton yang mendapatkan selendang, wajib menari bersama dengan sang penari. Karena jika tidak, ia akan dikejar-kejar oleh penari seblang sampai ikut menari. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, penonton yang mendapatkan selendang dan menari bersama, konon akan mendapatkan keberuntungan dalam hidup. 

Dalam ritual seblang, juga terdapat prosesi gending Kembang Dermo. Dimana hampir seluruh masyarakat setempat akan berebut mendapatkan bunga tersebut dengan tebusan atau mahar. Kembang Dermo dipercaya oleh masyarakat desa sebagai penolak bala, pengusir pengaruh jahat, bala penyakit, atau untuk mendapatkan keberuntungan. Kembang tersebut nantinya akan disimpan oleh warga untuk anak-anak atau diletakkan di sudut rumah atau sawah. 

FAKTA UNIK

Tari Seblang tak hanya dapat ditemui di desa Olehsari, tapi juga di desa Bakungan. Hanya saja perbedaan yang paling mencolok dari kedua pentas tari ini, terletak dari usia penari dan waktu pelaksanaannya. Di desa Bakungan, penarinya adalah kaum wanita yang sudah tua dan memasuki fase menopause. Jika di desa Olehsari pelaksanaannya dilakukan setelah hari raya Idul Fitri selama 7 hari berturut-turut, di desa Bakungan pagelaran Tari Seblang diadakan setelah hari raya Idul Adha di malam hari setelah waktu maghrib. 

Uniknya karena pengaruh ritual dan roh leluhur, Penari yang berlenggak lenggok dengan mata terpejam ini akan kuat menari hingga 6 jam terus menerus tanpa rasa lelah. 

TEASER : TARIAN SEBLANG, RITUAL KERASUKAN ROH LELUHUR PENGUSIR BALA DALAM HIDUP

Tari Seblang, sebuah kesenian yang kental akan unsur magis khas desa Olehsari, Banyuwangi. Tarian yang dipercaya dapat mengusir pengaruh jahat dalam hidup ini, digelar dengan gerakan sang penari berlenggak lenggok dalam kondisi kerasukan roh leluhur desa sebagai bentuk ritual yang bertujuan memperoleh keberuntungan dalam hidup. 

 

SUMBER ;

https://www.detik.com/jatim/budaya/d-6066175/ritual-seblang-di-banyuwangi-tarian-gadis-yang-kerasukan-roh-leluhur

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150509102224-269-52220/seblang-tarian-mistis-yang-tak-pernah-bisa-dipanggungkan

https://jatim.liputan6.com/read/4959169/tari-seblang-ritual-adat-pengusir-pagebluk-di-banyuwangi

https://www.merdeka.com/travel/tari-seblang-ritual-mistis-suku-banyuwangi-penolak-bala.html

https://www.banyuwangibagus.com/2014/11/tari-seblang-banyuwangi.html

 

INFOGRAFIS

Tari Seblang merupakan tradisi tua khas suku Osing di Desa Olehsari. Berasal dari singkatan “Sebele Ilang” yang artinya sialnya hilang. Tarian ini digelar dalam rangka bersih desa dengan tujuan untuk menolak bala, penyakit, dan hal buruk lainnya.

Pelaksanaan ritual Tari Seblang dilakukan selama 7 hari. Hari terakhir menjadi hari yang paling unik, karena terdapat prosesi Seblang Idher Bumi yang dilakukan keliling kampung. Penarinya haruslah yang memiliki garis keturunan langsung dari penari sebelumnya dan dipilih melalui sebuah ritual magis, dimana ada seorang tokoh adat yang akan dirasuki roh leluhur dan menunjuk langsung penari Seblang.

Diawali dengan membawa penari ke lokasi pertunjukkan, untuk memasang mahkota unik yang disebut Omprok. Setelah mahkota terpasang, barulah alunan musik Gending Lukito ditabuh, sebagai pertanda undangan untuk para arwah leluhur hadir di ritual Tari Seblang.

Mata penari Seblang ditutup sambil memegang nampan bambu yang disebut Tempeh. Kemudian sang pawang melakukan ritual untuk memastikan roh sudah masuk. Apabila Tempeh yang dipegang jatuh dan tubuh penari terjungkal ke belakang, itu adalah pertanda bahwa penari sudah kerasukan roh leluhur dan pertunjukkan pun dimulai.

Penari yang sudah kerasukan tersebut akan mulai menari dan berkeliling ke arah penonton dengan mata terpejam mengikuti arahan dari sang pawang. Dengan iringan gendhing dan keadaan tak sadar, penari berlenggak-lenggok menggerakkan selendangnya.

Share the Post:

Related Posts