PERESEAN, TRADISI PARA KESATRIA SUKU SASAK

PROLOG

Kejantanan para lelaki, sering kali dinilai karakternya yang kuat dan keras. Kepribadian yang menggambarkan maskulinitas lelaki tak pernah lepas dari beradu otot dan hal tersebut akan semakin terlihat dalam sebuah ritual pertarungan. Sebuah tradisi yang dimiliki oleh Suku Sasak, Lombok menampilkan pertarungan ksatria yang sudah dilakukan selama turun temurun bernama Peresean. Melalui Peresean inilah lahir jiwa-jiwa pemberani dan pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan. Tradisi yang mengharuskan para lelaki saling bertarung ini, menjadi simbol nilai luhur patriot dalam perlawanan terhadap kolonialisme pada masa lampau. 

TRADISI DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT SETEMPAT

Menurut catatan sejarah, Peresean dahulu digelar dalam rangka melatih ketangguhan, keberanian dan ketangkasan perang lelaki Suku Sasak dalam perlawanan menghadapi penjajah. Kisah lain mengatakan juga bahwa tradisi ini dilakukan sebagai bentuk luapan emosional prajurit Lombok di zaman dahulu setelah memenangkan pertarungan di medan perang. Bahkan pada zaman Kerajaan Mataram, pemuda Suku Sasak yang ingin menjadi prajurit diwajibkan mengikuti tradisi ini. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini konon juga menjadi sebuah ritual yang dilakukan masyarakat setempat untuk mendatangkan hujan di musim kemarau. 

Dalam tradisi Peresean, terdapat dua orang petarung yang disebut dengan Pepadu, wasit pengatur jalannya pertandingan yang disebut dengan Pakembar Tengaq (sebagai pengawas pertandingan) dan Pakembar Sedi (wasit pinggir lapangan yang bertugas memilih Pepadu). Tradisi Peresean biasanya dilakukan di tempat yang lapang, tujuannya untuk keleluasaan para petarung. Konon dalam tradisi Peresean, setiap Pepadu harus memiliki tiga sifat. Yaitu Wirase, Wirame dan Wirage. Wirase merupakan cara Pepadu menggunakan perasaannya dalam melakukan tradisi Peresean. Wirame adalah bentuk gerakan seperti menari yang dilakukan oleh Pepadu agar mampu menghindari rasa tegang dan cara untuk mempengaruhi lawan. Dan Wirage adalah kondisi raga atau fisik yang kuat agar mampu menghadapi lawan. Selain itu baik Pepadu atau Pakembar juga harus memperhatikan awiq-awiq atau aturan dalam tradisi Peresean yang sifatnya mengikat dan harus dipatuhi. Karena jika tidak, Sanksi yang paling tegas adalah Pepadu akan dikeluarkan dari lapangan pertarungan agar bisa memiliki kesempatan berpikir untuk merenungkan kekeliruannya.  

Pakaian yang digunakan dalam tradisi Peresean diantaranya celana, kain penutup celana, dan kain yang diikat di kepala. Pada bagian badan, para Pepadu tidak menggunakan pakaian apapun. Dalam pertunjukannya, tradisi Peresean juga diiringi oleh musik pengiring sebagai penyemangat para Pepadu pada saat bertarung. Alat musik yang digunakan antaran lain gong, kendang, rincik, simbal, suling dan kanjar.

 

FAKTA UNIK

Alat yang dipakai untuk saling memukul dalam tradisi ini bernama Pejalin. Pejalin sendiri terbuat dari rotan sepanjang 1,5 meter yang ujungnya diikat benang lalu dilumuri aspal atau pecahan beling yang dihaluskan. Untuk menangkis petarung akan dibekali Ende, yakni sebuah perisai yang tebal dan kuat terbuat dari kulit kerbau. Selain itu para petarung konon menggunakan mantra-mantra pada tongkat rotan atau tertanam di dalam badan yang dipercayai sebagai pelindung dalam pertarungan. Mantra-mantra tersebut diperoleh dari ajaran sesepuh, maupun kitab suci yang masih menggunakan tulisan dan Bahasa Sasak kuno.

Pertarungan terdiri dari 5 ronde dengan masing masing berdurasi 3 menit. Sabetan dari Pejalin hanya boleh mengenai bagian kepala, pundak dan punggung dan tidak boleh mengenai bagian paha ataupun kaki. Tak heran jika usai bertarung, pukulan yang dihasilkan membuat banyak luka di badan bahkan bisa membuat luka serius di kepala. Luka pada tubuh petarung pun diobati dengan cara unik, yaitu hanya dengan mengoleskan cairan sejenis minyak khusus. Pakembar juga akan menghentikan pertandingan bila salah satu petarung ada yang terluka sampai berdarah. Jika belum, maka pertandingan akan dilanjutkan sampai usai. Pemenang biasanya akan dihitung dari sedikitnya luka yang diterima oleh petarung. 

Meskipun tradisi ini menampilkan unsur kekerasan, Peresean juga memiliki pesan damai. Setiap pukulan yang dilayangkan tidak boleh disertai emosi. Hal ini ditujukan karena dalam pagelaran ini sangat menjunjung tinggi nilai persahabatan antar pria di Suku Sasak. Usai pertandingan para Pepadu diharuskan saling memeluk dan memaafkan. Nilai ini lah yang dijunjung tinggi dari tradisi peresean yaitu kesabaran dan kerendahan hati sebagai bentuk rasa saling menghormati satu sama lain. 

 

TEASER SOSMED :

“PERESEAN, TRADISI PARA KESATRIA SUKU SASAK”

Tradisi kesatria Suku Sasak yang sudah turun temurun, merupakan simbol bahwa kejantanan lelaki harus dibuktikan dalam sebuah pertarungan. Pertarungan sengit yang membuat tubuh penuh luka, menjadi saksi bahwa para lelaki Suku Sasak dituntut untuk menjadi pribadi yang tangguh, pemberani namun tetap harus selalu rendah hati.

 

SUMBER:

https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/menguji-keberanian-lewat-presean-di-lombok/

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/07/30/para-pria-suku-sasak-adu-jantan-lewat-tradisi-presean

https://kumparan.com/kumparantravel/peresean-tradisi-unik-pertarungan-gladiator-ala-suku-sasak-lombok-1waMGhPHJ3p/4

https://www.jokembe.com/budaya/baca/4/65/peresean-budaya-para-ksatria-suku-sasak-lombok

Share the Post:

Related Posts