TARI BEDHAYA KETAWANG, TARIAN SAKRAL KERATON KASUNANAN SURAKARTA

PROLOG

Keraton menjadi tempat yang melahirkan banyak budaya dan seni tari. Ragam gerakan indah penuh makna filosofis dalam seni tari menjadi sarana hiburan raja-raja di Keraton. Tari Bedhaya Singkawang, merupakan satu dari kekayaan tarian tradisional yang melambangkan kebesaran seorang Raja -Raja trah Jawa. Adanya syarat pada ritual tarian dan makna dibalik setiap gerakannya, seakan menambah kesakralan sebuah prosesi upacara sang pemilik tahta kekuasaan.

TRADISI DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT SETEMPAT

Nama Bedhaya Ketawang diambil dari kata bedhaya yang artinya penari wanita di istana. Sedangkan ketawang sendiri berarti langit. Langit digambarkan dengan sesuatu yang tinggi, keluhuran, dan kemuliaan. (Source: Supriyanto, Eksistensi Tari Bedhaya Ketawang, dalam Jurnal Penelitian Seni Budaya, Program Studi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, 2018).

Menurut catatan sejarah, Tari Bedhaya Ketawang sudah ada pada zaman Kerajaan Mataram (1613-1645) yang dipimping oleh Sultan Agung seorang raja terbesar di Kasultanan Mataram Islam. Pada suatu waktu, ketika Sultan Agung melakukan ritual semedi, beliau mendengar senandung dari langit. Senandung tersebut membuat Sultan Agung terkesima dan mengutarakannya kepada para pengawal. Dari fenomena itulah, Sultan Agung menciptakan tarian yang diberi nama Bedhaya Ketawang. 

Kisah mahsyur lain menceritakan bahwa Bedhaya Ketawang muncul dalam masa pemerintahan Raja sebelum Sultan Agung, yaitu Panembahan Senapati. Saat bertapa, Sang Raja memadu cinta dengan Ratu Kencanasari atau Kanjeng Ratu Kidul yang kemudian menjadi cikal bakal tarian ini. Konon, dahulu raja-raja Mataram, terutama pada masa Panembahan Senopati dan Sultan Agung sering kali dikaitkan dengan Kanjeng Ratu Kidul, baik dalam bentuk cerita lisan maupun babad. 

Tari Bedhaya Ketawang, merupakan kesenian warisan leluhur tradisional Keraton Kasunanan Surakarta yang sarat akan makna dan erat kaitannya dengan upacara adat, sakral. Tari Bedhaya Ketawang hanya dipentaskan untuk sesuatu yang khusus dan dalam suasana yang sangat resmi, seperti saat upacara peringatan kenaikan tahta Raja, hingga penobatan serta pemilihan Raja baru. Pada saat upacara Tari Bedhaya Ketawang berlangsung, tidak diperkenankan menyajikan hidangan. Hal ini dianggap bisa menganggu jalannya upacara dan suasana kesakralannya. Tarian ini juga menjadi simbol curahan cinta yang terlukis dalam gerak-gerik tangan serta seluruh bagian tubuh dari penari. Kata kata yang terkandung dalam tembang pengiring pun, dipercaya menjadi bukti gambaran curahan isi hati Kanjeng Ratu Kidul kepada sang Raja. 

Tari Bedhaya Ketawang ditarikan oleh sembilan penari wanita. Kesembilan penari memiliki peran masing-masing yang mengandung nilai filosofis tentang penggambaran kehidupan manusia. Selain itu, angka sembilan dipercaya sebagai angka sakral yang melambangkan jumlah mata angin.  Hal tersebut sesuai dengan kepercayaan masyarakat Jawa kuno, dimana terdapat sembilan dewa yang menguasai tiap arah mata angin (Nawasanga). Sembilan penari Bedhaya Ketawang mewakili masing-masing dewa yang bertugas menjaga keseimbangan alam jagat raya.  Itulah konsep ilmu alam semesta yang konon telah ada dalam masyarakat Jawa sejak ratusan tahun.

FAKTA UNIK

Daya magis tarian sakral ini dapat dirasakan selama prosesinya berlangsung, oleh karena itu pakem dan pantangan perlu dipatuhi agar pagelaran tari dapat berjalan dengan lancar dan khidmat. Syarat utama seorang penari Bedhaya Ketawang haruslah gadis suci dan tidak dalam keadaan menstruasi. Jika sedang menstruasi, penari harus meminta izin terlebih dahulu kepada Kanjeng Ratu Kidul dengan melakukan caos dhahar di Panggung Sangga Buwana Keraton Surakarta. Sang penari diharuskan berpuasa selama beberapa hari sebelum pagelaran untuk memperoleh kesucian batin. Izin dari Kanjeng Ratu Kidul dianggap penting, karena konon beliau selalu hadir pada saat penari berlatih dan tak segan menghampiri sang penari jika melakukan gerakan yang salah. Keseluruhan penari yang berjumlah 9 orang dipercaya merupakan angka sakral yang melambangkan 9 arah mata angin. Hal ini sesuai dengan kepercayaan masyarakat Jawa pada peradaban Klasik, dimana terdapat 9 dewa yang menguasai sembilan arah mata angin yang disebut juga sebagai Nawasanga, yang terdiri dari: Wisnu (Utara), Sambu (Timur Laut), Iswara (Timur), Mahesora (Tenggara), Brahma (Selatan), Rudra (Barat Daya), Mahadewa (Barat), Sengkara (Barat Laut), dan Siwa (Tengah).

Ritual Tari Bedhaya Ketawang juga memiliki waktu-waktu khusus dalam pagelarannya. Pelaksanaan tarian ini hanya disajikan pada hari selasa kliwon pada penanggalan kalender Jawa. Tidak hanya pagelarannya saja, latihannya pun mesti dilakukan pada hari tersebut. Kepercayaan itu sampai saat ini masih dijaga oleh para penari secara turun temurun. Selain itu, masyarakat jawa juga memaknai selasa kliwon adalah hari dimana seharusnya seseorang menunjukkan kasih sayang kepada diri sendiri. 

TEASER SOSMED

“TARI BEDHAYA KETAWANG, KESENIAN SAKRAL KERATON KASUNANAN SURAKARTA”

Tari Bedhaya Ketawang merupakan kesenian dengan berbagai makna filosofis yang mendalam dari setiap lenggak-lenggok gerakan penarinya. Tarian sakral yang menjadi simbol kebesaran tahta kerajaan ini, menceritakan tentang curahan kisah cinta sang raja dengan Kanjeng Ratu Kidul sang penguasa pantai selatan.

SUMBER :

https://www.kompas.com/skola/read/2021/02/11/154500369/tari-bedhaya-ketawang-tarian-sakral-keraton-kasunanan-surakarta?page=all

https://tumpi.id/tari-bedhaya-ketawang-makna-dan-filosofinya/

http://dpad.jogjaprov.go.id/coe/article/tari-bedhaya-ketawang-438

Share the Post:

Related Posts