PROLOG
Mungkin banyak dari kita yang beranggapan bahwa sebuah tarian diciptakan untuk tujuan hiburan, namun ternyata banyak tarian di nusantara yang justru memiliki makna filosofis yang mendalam atau bahkan dimaksudkan untuk melakukan ritual demi kepentingan masyarakat. Salah satunya adalah tarian Gundala-Gundala, sebuah kesenian tari pemanggil hujan khas Suku Batak Karo, yang kental akan nuansa mistis dan ritual magis demi mengakhiri kemarau berkepanjangan.


TRADISI DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT
Berdasarkan literatur sejarah kuno, tarian Gundala-Gundala berawal dari sebuah kisah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja bernama Sibayak. Suatu hari, ia bertemu dengan burung raksasa yang ternyata adalah jelmaan dari pertapa sakti Gurda-gurdi. Raja Sibayak lalu memutuskan membawa pulang burung tersebut untuk menjadikannya pengawal putri kerajaan.
Gurda-gurdi konon memiliki kekuatan yang istimewa pada paruhnya, sehingga tidak ada seorang pun diperbolehkan mendekati apalagi melakukan sentuhan. Namun, suatu hari sang putri secara tidak sengaja menyentuh paruh tersebut hingga membuat Gurda-gurdi mengamuk dan menyerangnya. Mengetahui kejadian itu, sang Raja yang tidak terima lantas mengutus pasukan untuk menyerang Gurda-gurdi hingga akhirnya burung raksasa jelmaan pertapa sakti tersebut tewas.
Hal ini membuat masyarakat Suku Batak Karo bersedih karena tewasnya Gurda-gurdi akibat sebuah kesalahpahaman, rakyat pun menangis hingga secara tiba-tiba hujan pun turun seolah langit memberi pertanda duka atas kepergian Gurda-gurdi. Kisah yang melegenda itulah yang diadaptasi menjadi sebuah tarian bernama Gundala-gundala.
Tarian Gundala-Gundala merupakan seni tari tradisional yang syarat akan ritual dengan tujuan memanggil hujan. Tarian ini biasanya dilakukan ketika datangnya musim kemarau yang berkepanjangan. Konon, masyarakat sekitar percaya bahwa setiap tarian ini dilakukan, hujan pasti akan turun.
FAKTA UNIK
Dalam ritual, para penari Gundala-Gundala mengenakan busana semacam jubah dan aksesoris topeng kayu yang konon terdapat unsur magis di dalamnya. Topeng tersebut dipercaya oleh masyarakat sebagai media kepada para leluhur. Jika diperhatikan, topeng tersebut terlihat memiliki ekspresi kesedihan. Hal tersebut adalah sebuah simbol dengan makna bahwa masyarakat yang bersedih ketika kemarau berkepanjangan datang. Dengan ritual tarian Gundala-Gundala, masyarakat percaya hujan dapat kembali menyuburkan tanaman sehingga menghasilkan hasil bumi yang melimpah.
Selain ritual tarian yang lekat akan hal magis, Gundala-Gundala juga memiliki bagian utama yang tak kalah unik. Menurut berbagai sumber, kekuatan tradisi ini terletak pada topengnya. Konon, topeng yang digunakan dalam tarian, terbuat dari kayu pohon nangka yang dalam proses penebangannya melalui ritual terlebih dahulu. Selain itu, bahan dasar kayu yang digunakan haruslah berasal dari pohon nangka yang tersambar petir. Masyarakat setempat percaya bahwa terdapat hubungan kuat antara petir, hujan dan alam sebagaimana Suku Batak Karo yang hidup bersama alam.
TEASER: GUNDALA SANG TARIAN PEMANGGIL HUJAN KHAS SUKU BATAK
Terdapat kisah melegenda di Suku Batak Karo tentang sebuah tarian topeng yang konon mampu mendatangkan hujan. Gundala-Gundala, sebuah ritual seni tari tradisional yang unsur kekuatan topengnya syarat akan hal magis karena berbahan dasar kayu dari pohon yang harus tersambar petir.
SUMBER :
https://hellowayang.com/2021/09/09/gundala-si-tarian-khas-pemanggil-hujan/
https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=6062


