PROLOG
Berkunjung ke pulau Kalimantan, pasti sudah tidak asing dengan penduduk aslinya yaitu Suku Dayak. Suku yang dikenal masih berpegang teguh pada nilai tradisi leluhurnya dalam kehidupan sehari hari, termasuk dari cara berpakaiannya. Jika melihat pakaian Suku Dayak, pasti identik dengan unsur manik-manik yang memiliki kombinasi warna yang beragam. Ternyata selain difungsikan sebagai aksesoris, manik-manik pada pakaian dipercaya oleh masyarakat Dayak sebagai penangkal dari kekuatan jahat, serta sebagai simbol bahwa Suku Dayak selalu hidup dalam keharmonisan. Tradisi manik-manik KalimantanSelatan telah bermula sejak 5.000 tahun yang lalu. Penggalian arkeologis yang dilakukan baru-baru ini di Goa Babi, Kabupaten Tabalong, menemukan berbagai artefak antara lain tulang-tulang binatang yang dilubang melintang, diperkirakan sebagai perhiasan yang dirangkai dengan tali seperti manik-manik. Di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan juga pernah ditemukan artefak yang diperkirakan dari masa prasejarah, berupa manik-manik yang dibuat dari bahan gerabah.


TRADISI DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT SETEMPAT
Manik-manik dikenal sejak masa Berburu dan meramu bukan sebagai pakaian tetapi perhiasan atau sebagai penyertaan bekal kubur, baik berupa perhiasan, senjata maupun periuk-periuk (untuk bekal makan dan minum si mati) dengan mayat adalah gejala yang universal dan gejala ini Ielah ditemukan sejak jaman berburu tingkat sederhana. Kepercayaan akan kelangsungan hidup di alam baka menghendaki agar orang yang meninggal, disertakan bekal untuk kelangsungan hidupnya di alam baka.
Manik-manik dinilai menjadi sebuah benda sakral, karena dijadikan sebagai salah satu unsur upacara adat. Selain dipercaya sebagai penolak bala, manik-manik juga biasa digunakan sebagai sarana pengobatan, bekal kematian, hingga alat tukar ataupun mas kawin. Maka tak heran jenis manik-manik yang dipakai, bisa menjadi tolak ukur status sosial seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.
Penggunaan manik-manik dalam suatu upacara perdukunan oleh suku Dayak di Kalimantan Barat sifatnya umum. Suku Dayak Khanayatn dalam pengobatan, manik-manik digunakan oleh San!{ Balian (Sang Dukun) pada waktu upacara Balenggang (penyembuhan/pengobatan) dilakukan. Manik-manik dipercaya dapat menangkal roh jahat serta memberikan kekuatan kepada sang dukun pada waktu pengobatan berlangsung. Pada suku Dayak Kayan Mendalam di Kapus Hulu, pemberian manik-manik sebagai upah dalam pelaksanaan pengobatan dilakukan setelah selesainya upacara male (pengobatan) para dayung (tokoh agama/imam) pulang dengan mendapatkan bayaran berupa sebuah parang dan empat atau lima manik tua yang nilainya tergantung tingkat kemakmuran yang bersangkutan.
Masyarakat suku Dayak memiliki manik-manik dengan ragam warna, serta motif dan filosofi mendalam dibaliknya. Warna yang digunakan pun biasanya berbeda-beda dan memiliki tampilan yang kontras. Seperti warna merah yang memiliki arti semangat hidup bagi masyarakat Dayak. Warna biru berarti sumber kekuatan dari segala penjuru yang tidak mudah luntur. Warna kuning sebagai simbolisasi sebuah keagungan dan keajaiban. Warna hijau sebagai makna kelengkapan dan intisari alam semesta dan terakhir warna putih melambangkan kesucian atau iman seseorang kepada sang pencipta.
Selain itu motif yang dibentuk pun memiliki maknanya tersendiri. Seperti motif palang tapak jalak yang dipercaya akan menjamin pemakainya selamat sampai tujuan ketika akan melakukan perjalanan jauh. Sehingga biasanya motif ini yang paling sering dijadikan cinderamata dan cocok bagi para turis. Terdapat pula motif seperti burung tingang dan bentuk kamang yang merupakan simbol kehadiran roh leluhur yang dipercayai menjaga Suku Dayak dari segala kekuatan jahat.
Unsur lain yang tak kalah menarik adalah bahan dasar batu yang digunakan untuk manik-manik. Konon, batu manik yang digunakan dipercaya memiliki unsur magisnya masing-masing. Diantaranya adalah kornelin, batuan hablur, onix, akik bergaris, kalsedon dan batu kecubung. Menurut pandangan Suku Dayak, manik berbahan dasar batu kecubung dan batu akik bergaris lah yang dianggap memiliki keistimewaan tersendiri di dalamnya.
Bahan dasar manik-manik yang terbuat dari batu, dipercaya memiliki kemampuan khusus jika dipakai oleh seseorang. Diantaranya adalah manik yang berbahan dasar batu akik bergaris dan batu kecubung. Untuk manik dengan bahan batu akik bergaris merah dan putih, dipercaya dapat membuat pemakai manik-maniknya bisa kebal terhadap peluru. Selain itu, manik batu akik ini konon bisa membawa kesembuhan bagi orang yang sakit dan keberuntungan bagi petani agar mendapatkan hasil panen yang melimpah.
Pada suku Dayak Taman Kapuas Hulu, kebiasaan dalam keluarga untuk menjodohkan satu sama lain. Sebagai tanda ikatan perjodohan maka kedua belah pihak saling memberikan manik. Kaum laki-laki memberikan sebiji Tolang manik (manik-manik berbentuk kerucut ganda berwarna merah), sedangkan kaum wanita memberikan sebiji Saraong manik (manik-manik wama merah berbentuk bulat). Apabila pemikahan dilangsungkan kaum laki-laki harus menyerahkan seuntai manik-manik lawang (manik-manik wama kuning) kepada mempelai wanita sebagai mahar (mas kawin). Apabila kaum Hipi (kaum bangsawan), mas kawinnya adalah manik lawang setinggi dua tinggi badan mempelai wanita.
Sedangkan untuk batu akik dengan bahan dasar kecubung, selain dapat membantu penyembuhan penyakit, batu ini juga dipercaya dapat menjadi penawar racun hewan berbisa dan luka bakar bagi pemakainya.
TEASER: MANIK-MANIK, SIMBOL KEHARMONISAN DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SUKU DAYAK
Dalam berpakaian, Suku Dayak selalu melibatkan unsur manik-manik di dalamnya. Bukan hanya sebagai hiasan dan simbol keharmonisan, konon manik-manik tersebut dapat menangkal segala pengaruh buruk dari roh jahat dan mendatangkan keberuntungan dalam hidup bagi siapapun yang memakainya.
SUMBER :
https://kalsel.antaranews.com/berita/8231/manik-manik-borneo-tak-sekadar-hiasan


