KUPIAH MEUKEUTOP, SIMBOL KEHIDUPAN MASYARAKAT ACEH

PROLOG

Tak hanya kaya akan tradisi dan budaya, Indonesia juga melimpah akan kreatifitas sumber dayanya, termasuk pembuatan kerajinan tangan. Banyak daerah di Indonesia memproduksi kerajinan dengan cara tradisional, mulai dari produk anyaman, batik, tenun sampai ukiran kayu. Setiap kerajinan tangan hasilnya bisa berbeda tergantung dari daerah mana kerajinan tangan tersebut dibuat. Sebab, ada ciri khas tersendiri yang menjadi identitas sebuah daerah berkaitan dengan budaya, tradisi, dan adat-istiadat masyarakat setempat, salah satunya di tanah Serambi Mekah, Aceh. 

Wilayah yang kental akan percampuran budaya tradisional dan keIslamannya ini memiliki sebuah kerajinan tangan yang sarat akan filosofi dan keunikannya, yaitu ‘Kupiah Meukeutop’. Aksesoris berupa topi atau penutup kepala tersebut biasanya digunakan oleh pria sebagai pelengkap pakaian adat yang dikenakan dalam sebuah upacara adat. 

TRADISI DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT SETEMPAT

Secara historis, ‘Kupiah Meukeutop’ lebih diidentikkan dengan topi kebesaran yang sering dipakai Teuku Umar, pahlawan nasional asal Aceh yang sering memakai ‘Kupiah Meukeutop’ pada berbagai kesempatan. Kupiah yang menjadi ikon masyarakat Aceh ini sudah ada pada masa kolonial Belanda. Kupiah meukeutop dulunya masyhur dengan nama kupiah tungkop, karena kupiah ini berasal dari pemukiman Tungkop atau lebih detailnya di gampong Rawa Tungkop, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie.

Ketika pecah Perang Aceh dengan Pemerintah Kolonial Belanda, Teuku Umar, Suami dari Tjut Nyak Dien, singgah ke Gampong Tungkop, Aceh Pidie. Saat singgah di Tungkop itu, Teuku Umar berjumpa dengan pengrajin kupiah dan menghadiahinya sebagai dukungan terhadap perlawanan Teuku Umar.

Kerajinan ‘Kupiah Meukeutop’ yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda juga dikenal dengan sebutan ‘kupiah tungkop’, karena berasal dari daerah pemukiman Tungkop di Kabupaten Pidie. Pada masa Kesultanan Aceh, kupiah ini digunakan oleh para Sultan dan Ulama.

Keindahan motif dan warna kerajinan tangan yang satu ini, ternyata memiliki arti mendalam yang terbagi menjadi empat bagian dengan filosofinya masing-masing. Bagian pertama bermakna hukum, bagian kedua bermakna adat, bagian ketiga bermakna qanun atau peraturan daerah, dan keempat bermakna reusam yang artinya merujuk pada segala sesuatu yang memiliki unsur adat-istiadat, tata cara, dan tata tertib kehidupan yang telah dijalankan sejak zaman dahulu. Dengan demikian, melihat kupiah meukeutop sama halnya dengan melihat tata cara kehidupan yang dimiliki oleh masyarakat Aceh, yang berpondasi pada agama, adat, qanun dan reusam.

Seluruh warna yang ada dalam kupiah meukeutop juga memiliki makna masing-masing. Misalnya warna merah sebagai lambang kepahlawanan, hijau pertanda agama, hitam melambangkan ketegasan atau keteguhan hati, kuning kerajaan atau negara, dan putih bermakna kesucian atau keikhlasan.  adatnya berbeda.

FAKTA UNIK

Sampai saat ini Kopiah Meukeutop dijadikan pelengkap busana adat Tradisional Aceh, dan juga bisa dijadikan souvenir/tanda mata yang indah bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke daerah ini. Pada acara perkawinan topi tradisional ini digunakan oleh pengantin pria yang menggunakan pakaian adat. Kopiah Meukutop dapat ditemukan di tiap Kabupaten/Kota di Propinsi Aceh, kecuali untuk daerah-daerah tertentu yang pakaian.

Ciri khas kupiah ini adalah bentuknya yang tinggi, lonjong, dan dihiasi lilitan kain sutra berbentuk segi delapan atau biasa disebut tengkulok. Pada bagian bawah kupiah, ada motif anyaman kombinasi warna merah, kuning, hijau, dan hitam yang terbuat dari bahan sulaman katun. Di tengahnya juga terdapat anyaman serupa tetapi dibatasi dengan lingkaran kain hijau di atas dan kain hitam di bawah. Bila diperhatikan lebih detail, pada lingkaran kepala bagian bawah terdapat motif dominan berbentuk huruf “Lam” yang merupakan salah satu dari huruf hijaiyah. Huruf Lam tersebut terbentuk karena adanya empat tingkatan warna yang syarat akan makna. 

Karena terkenal dengan keunikan bentuk dan filosofinya, kupiah meukeutop ini sampai menjadi ikon sebuah masjid di Aceh. Masjid Baitul Musyadah yang masyarakat Aceh biasa mengenal dengan nama Masjid Kupiah Meukeutop atau Masjid Teuku Umar ini memiliki kubah masjid yang berbentuk topi tradisional adat Aceh. 

Dari bentuk kubahnya, masjid ini jauh berbeda dengan masjid pada umumnya yang berbentuk limas atau bulat. Ditambah lagi relief yang unik dan warna yang dicat mencolok mengikuti warna serta pola kupiah meukeutop. Meski kesohoran dari segi arsitektur dan nilai sejarahnya masih kalah dari Masjid Baiturrahman, Masjid Kupiah Meukeutop tetap memiliki nilai keunikan yang tidak dimiliki masjid lain. Hal ini karena masjid ini merupakan satu satunya masjid dengan kubah berbentuk topi atau kupiah yang tidak dapat ditemukan di belahan dunia lain. 



REFERENSI :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/11/16/kupiah-meukeutop-kerajinan-tangan-ikon-masyarakat-aceh

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-aceh/baca-artikel/12548/Sekilas-Riwayat-Kupiah-Meukeutop-Aceh.html

https://www.wisataaceh.co.id/religi/10/masjid-kupiah-meukeutop-cuma-ada-satu-satunya-di-dunia/

https://www.acehtrend.com/2020/07/25/quo-vadis-kupiah-meukeutop/

Share the Post:

Related Posts