PROLOG
Kekayaan Indonesia yang tak ada habisnya, bukan hanya sekedar flora dan fauna saja, tapi juga keragaman budaya dan karya seni. Kedua aspek tersebut biasanya terlihat pada sebuah tradisi adat istiadat yang tak lepas dari keberadaan sebuah pakaian atau kain dengan ciri khas dan makna tersirat di dalamnya. Beragam kain di Indonesia telah berhasil menjadi harta karun nusantara yang mendunia, salah satunya berasal dari Nusa Tenggara Timur. Pulau Sumba adalah pulau penghasil kain tenun nan indah yang dikenal dengan sebutan Kain Tenun Sumba.
Kain Sumba merupakan salah satu karya kebanggaan masyarakat Sumba yang telah diwariskan secara turun temurun dan mampu bertahan hingga kini. Kain-kain indah Sumba yang mewariskan cerita budaya, lahir dari kekayaan alam setempat melalui tangan-tangan pengrajin yang begitu mencintai warisan leluhurnya. Proses pembuatan kain Sumba yang memakan waktu cukup lama, merepresentasikan keistimewaan kain Sumba yang dibuat dengan sepenuh hati dan sarat akan makna kehidupan.


TRADISI DAN KEPERCAYAAN SETEMPAT
Budaya menenun di Sumba, telah dikenal sejak ratusan hingga ribuan tahun lalu, kegiatan ini telah dikembangkan oleh setiap suku dan menghasilkan kain tenun yang dipandang sebagai harta berharga milik keluarga. Dahulu, kain tenun dibuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, yakni sebagai busana. Tak lama kemudian, kain khas NTT ini berkembang menjadi kain sakral yang turut memenuhi kebutuhan adat, upacara, kelahiran, perkawinan hingga pesta. Seiring perkembangan zaman, kain tenun tak hanya digunakan oleh masyarakat NTT, keindahannya berhasil membawa kain khas ini dikenal oleh masyarakat luas, ada yang menggunakannya sebagai selendang, sarung, selimut, hingga pakaian.
Selain dari keindahan dan keunikannya, kain Sumba juga dikenal memiliki harga yang tak murah. Meski begitu, nilainya sepadan dengan kualitas asli kain Sumba yang masih terjaga hingga kini. Tak banyak yang tahu bahwa untuk membuat sebuah kain tenun Sumba, pengrajin membutuhkan waktu sekitar 6 bulan hingga bertahun-tahun lamanya. Salah satu keunikan lain, motif yang terdapat pada kain tak dibuat sembarangan, para pengrajin mendapatkan ide mulai dari mencari inspirasi, mengandalkan rasa hingga melalui mimpi. Maka dari itu, motif kain tenun Sumba disebut memiliki nilai spiritual nan sakral.
Setiap helai kain yang ditenun dalam waktu lama, berisi doa-doa yang dipanjatkan oleh sang pembuat. Doa itu disematkan untuk masing-masing peristiwa penting dalam kehidupan orang yang kelak memakainya. Secara adat dan budaya, kain tenun lebih dari sekedar busana tapi juga sebagai mitos dan lambang suku yang tersebar di berbagai daerah di NTT. Motif kuda misalnya, melambangkan kepahlawanan, keagungan dan kebangsawanan karena kuda adalah simbol harga diri bagi masyarakat Sumba.
Sedangkan motif buaya atau naga, menggambarkan kekuatan dan kekuasaan raja. Motif ayam, melambangkan kehidupan wanita dan motif burung kakaktua, melambangkan persatuan. Selain itu, pada kain-kain kuno dijumpai pula motif singa, rusa, udang dan hewan lain yang juga memiliki maknanya tersendiri.
FAKTA UNIK
Kain tenun Sumba yang dibuat secara tradisional masih menggunakan pewarna alami dari alam. Proses pewarnaannya pun juga ikut memakan waktu berbulan-bulan bahkan hingga tahunan. Selain mengikuti aturan tetap adat istiadat, lamanya waktu juga dipengaruhi oleh jenis tumbuhan yang menjadi zat pewarna yang hanya tumbuh pada musim-musim tertentu. Pada musim penghujan, para penenun umumnya melakukan kegiatan mengikat benang, menentukan motif, sekaligus menyiapkan bahan-bahan. Namun, seiring perkembangan dan kebutuhan pasar, ada beberapa jenis kain Sumba yang dimodifikasi aspek pewarnaannya menggunakan campuran kimia, hal ini memungkinkan kain bisa diproduksi dengan waktu yang lebih cepat. Oleh karena itu, untuk memiliki kain tenun Sumba asli yang masih mengandung unsur kesakralan, nilainya pun sangat tinggi.
Jika bagi masyarakat umum, kain tenun Sumba hanya dilihat sebagai kain yang cantik untuk dikenakan, berbeda dengan masyarakat Sumba itu sendiri. Kain tenun juga kerap digunakan sebagai kain penutup, pembungkus bahkan pengawet jenazah. Khususnya bagi masyarakat Sumba Timur percaya bahwa jenazah yang disimpan dalam kain tenun Sumba berbulan-bulan dan tidak diintip sama sekali, konon jenazahnya akan awet dan tidak mudah membusuk.
TEASER SOSMED :
“Menyingkap makna tersirat dibalik keindahan tenun Sumba”
Secara adat dan budaya, kain tenun lebih dari sekedar busana tapi juga sebagai mitos dan lambang suku yang tersebar di berbagai daerah di NTT. Selain dari keindahan dan keunikannya, kain Sumba juga dikenal memiliki harga yang tak murah namun sepadan dengan kualitas aslinya yang masih terjaga dan proses pembuatannya membutuhkan waktu 6 bulan hingga bertahun-tahun.
REFERENSI :
https://phinemo.com/sisi-lain-kain-tenun-sumba/
https://kumparan.com/kumparanstyle/sekelumit-makna-di-balik-cantiknya-motif-tenun-sumba/full
https://tripsumba.com/budaya/tenun-sumba-berapa-sih-harga-aslinya/


