NOKEN PAPUA, BUKAN SEKEDAR TAS TAPI JUGA MEWAKILI IDENTITAS

PROLOG

Sejak Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengusulkan noken ke UNESCO, noken telah diterima sebagai warisan budaya takbenda dunia dari Indonesia. Penerimaan ini bertujuan untuk melindungi dan mengakui noken secara internasional sebagai identitas lokal Papua (Pekei 2013). Noken adalah nama kata turunan: ino-kenson atau inoken dari bahasa Biak (Pekei 2013:32).

Noken adalah tas tradisional khas Papua yang sudah melekat dalam budaya masyarakat Papua sejak zaman dahulu kala. Salah satu warisan budaya ini rupanya lebih dari sebuah tas biasa, Noken memiliki simbol filosofis dan makna kehidupan tersendiri. 

Bahan alami noken diambil dari bahan alami, terdiri dari daun pandan hutan, daun kelapa, kayu manduan, pohon nawa, atau anggrek hutan hitam, dan juga kulit kayu genemu (Gnemon sp.). Jadi, noken terbuat dari bahan alami yang ramah lingkungan. Proses pembuatan noken sangat rumit karena tidak pernah menggunakan mesin otomatis. Bahan-bahan tersebut diolah, dikeringkan, kemudian dipintal menjadi benang untuk dijadikan noken (Cahyadi et al. 2013).

Budaya asli Papua yang sudah masuk dalam warisan budaya UNESCO ini, dibentuk dengan sistem anyam menggunakan bahan-bahan alami, hingga menyerupai jaring. Noken biasa digunakan oleh masyarakat Papua untuk membawa kebutuhan sehari-hari, mulai dari barang pribadi, hasil bumi hingga menggendong bayi. Tak heran, Noken dianggap sebagai identitas pribadi maupun suku di Papua.

TRADISI DAN KEPERCAYAAN SETEMPAT

Noken adalah sebutan untuk ragam nama tas serbaguna yang digunakan oleh lebih dari 250 suku di Papua. Dahulu, Noken tidak dapat dibawa atau digunakan oleh sembarang orang, melainkan hanya orang ternama, berada dan memiliki kuasa yang bisa mengenakannya. Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin lekatnya Noken dalam kehidupan sehari-hari, tas tradisional inipun bisa digunakan oleh masyarakat luas dari berbagai kalangan. Noken menjadi alasan untuk mengembangkan modernisasi dan menghasilkan perubahan sosial dalam masyarakat Papua. Meski identitas noken masih melekat pada orang Papua hingga saat ini, secara fungsional noken telah bertransformasi.

Noken umumnya  dibuat oleh wanita Papua, para pembuat atau pengrajin noken memiliki julukan yang disebut sebagai Para Mamas Papua. Proses pembuatan Noken termasuk dalam tradisi yang melambangkan kedewasaan seorang perempuan, karena membuat Noken merupakan keahlian yang wajib dimiliki oleh perempuan Papua. Seorang perempuan dikatakan dewasa jika dirinya sudah bisa membuat Noken. Bahkan, keahlian membuat kerajinan ini dijadikan salah satu syarat seorang perempuan bisa dinikahi.

Noken Papua terdiri dari berbagai jenis dan warna yang mewakili identitas suatu suku atau pembuatnya, meski begitu bahan yang digunakan tetaplah sama yakni menggunakan bahan baku yang diambil dari alam setempat, seperti sagu muda, kulit kayu atau batang bunga anggrek. Proses pembuatannya pun cukup rumit dan memakan waktu karena masih menggunakan cara tradisional. Sebagai permulaan, kayu diolah dengan dikeringkan, dipilah seratnya dan kemudian dipintal menjadi tali atau benang. Variasi warna yang terdapat pada Noken juga dibuat dengan pewarna alami, oleh karena itu pengerjaannya bisa mencapai 2 minggu hingga 1 bulan, tergantung dari tingkat kesulitan dan ukuran Noken.

FAKTA UNIK

Jika umumnya tas disangkutkan di pundak, masyarakat Papua terbiasa membawa Noken dengan menggantungkan talinya di kepala dan membiarkan tas menggantung di punggung. Jika membawa Noken lebih dari satu, maka mereka akan menggantung Noken secara bersusun mulai dari yang terbesar hingga terkecil.

Noken memiliki bentuk dan warna yang beragam, tergantung dari ciri khas masing-masing suku. Salah satu yang menarik perhatian ialah Noken emas yang hanya dibuat oleh pria Suku Mee dan memiliki harga selangit. Noken yang berwarna seperti emas disebut juga Toya Agiya.

Dalam tradisi suku Mee, Noken Toya Agiya hanya boleh dibuat atau dipakai oleh pria suku Mee. Tak boleh sembarang digunakan, hanya pria yang memiliki kekuasaan dan dari kalangan berada sajalah yang berhak mengenakannya. Noken emas sudah terbukti kuat, tidak mudah robek dan tahan lama. Harga dari Noken emas, sebanding dengan proses pembuatannya yang terbilang tidak mudah. Bahan baku utamanya adalah tanaman anggrek dalam hutan yang tumbuh di batang pohon tinggi, para pengrajin harus memanjat untuk mendapatkannya. Setelah itu, tanaman anggrek akan diolah dan dibentuk menjadi Noken yang memakan waktu hingga 3 bulan lamanya. Jika biasanya Noken dijual mulai dari harga ratusan ribu, Noken anggrek emas dibanderol dari harga 4 juta hingga belasan juta rupiah.

Pada dasarnya noken dimiliki oleh 250 suku bangsa di Papua dengan nama yang berbeda dari setiap suku. Ada yang menyebutnya Su menurut bahasa suku Hugula, jum dalam bahasa suku Dani, dan sum menurut suku Yali, agiya dituturkan oleh suku Mee, Ese berasal dari suku Asmat, Dump disebut suku Irarutu. Orang Serui menyebutnya rotang,aderi, atau kaketa, sedangkan suku Tabi/Sentani menyebutnya kangke atau koroboi. Dalam suku Ayamaru/Maybrat dan Ayvat, noken disebut eyu atau yuta. Suku Tehit bisa menyebut berbagai nama, seperti qya qsi, qya queri, dan iquiyabos. Orang Moi menyebutnya kwok, dan suku Moli menyebutnya naya.Source: Alice Salhuteru, Fred Keith Hutubessy,  he Transformation of Noken Papua: Understanding the Dynamics of Noken’s Commodification as the Impact of UNESCO’s Heritage Recognition, 2020.

TEASER SOSMED :

Noken Papua, bukan sekedar tas tapi juga mewakili identitas

Noken adalah sebutan untuk ragam nama tas serbaguna yang digunakan oleh lebih dari 250 suku di Papua dan masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia, UNESCO. Seorang perempuan Papua dikatakan dewasa jika dirinya sudah bisa membuat Noken. Bahkan, keahlian membuat kerajinan ini dijadikan salah satu syarat seorang perempuan bisa dinikahi.




REFERENSI :

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/noken-warisan-budaya-tanah-papua-yang-sarat-makna/ 

https://www.urbanasia.com/mengenal-noken-papua-tas-tradisional-yang-jadi-warisan-takbenda-unesco-U46739 

https://travel.detik.com/travel-news/d-5282694/apa-itu-filosofi-noken-papua-ini-macam-macam-dan-sejarahnya

 

PROLOG

Sejak Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengusulkan noken ke UNESCO, noken telah diterima sebagai warisan budaya takbenda dunia dari Indonesia. Penerimaan ini bertujuan untuk melindungi dan mengakui noken secara internasional sebagai identitas lokal Papua (Pekei 2013). Noken adalah nama kata turunan: ino-kenson atau inoken dari bahasa Biak (Pekei 2013:32).

Noken adalah tas tradisional khas Papua yang sudah melekat dalam budaya masyarakat Papua sejak zaman dahulu kala. Salah satu warisan budaya ini rupanya lebih dari sebuah tas biasa, Noken memiliki simbol filosofis dan makna kehidupan tersendiri. 

Bahan alami noken diambil dari bahan alami, terdiri dari daun pandan hutan, daun kelapa, kayu manduan, pohon nawa, atau anggrek hutan hitam, dan juga kulit kayu genemu (Gnemon sp.). Jadi, noken terbuat dari bahan alami yang ramah lingkungan. Proses pembuatan noken sangat rumit karena tidak pernah menggunakan mesin otomatis. Bahan-bahan tersebut diolah, dikeringkan, kemudian dipintal menjadi benang untuk dijadikan noken (Cahyadi et al. 2013).

Budaya asli Papua yang sudah masuk dalam warisan budaya UNESCO ini, dibentuk dengan sistem anyam menggunakan bahan-bahan alami, hingga menyerupai jaring. Noken biasa digunakan oleh masyarakat Papua untuk membawa kebutuhan sehari-hari, mulai dari barang pribadi, hasil bumi hingga menggendong bayi. Tak heran, Noken dianggap sebagai identitas pribadi maupun suku di Papua.

TRADISI DAN KEPERCAYAAN SETEMPAT

Noken adalah sebutan untuk ragam nama tas serbaguna yang digunakan oleh lebih dari 250 suku di Papua. Dahulu, Noken tidak dapat dibawa atau digunakan oleh sembarang orang, melainkan hanya orang ternama, berada dan memiliki kuasa yang bisa mengenakannya. Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin lekatnya Noken dalam kehidupan sehari-hari, tas tradisional inipun bisa digunakan oleh masyarakat luas dari berbagai kalangan. Noken menjadi alasan untuk mengembangkan modernisasi dan menghasilkan perubahan sosial dalam masyarakat Papua. Meski identitas noken masih melekat pada orang Papua hingga saat ini, secara fungsional noken telah bertransformasi.

Noken umumnya  dibuat oleh wanita Papua, para pembuat atau pengrajin noken memiliki julukan yang disebut sebagai Para Mamas Papua. Proses pembuatan Noken termasuk dalam tradisi yang melambangkan kedewasaan seorang perempuan, karena membuat Noken merupakan keahlian yang wajib dimiliki oleh perempuan Papua. Seorang perempuan dikatakan dewasa jika dirinya sudah bisa membuat Noken. Bahkan, keahlian membuat kerajinan ini dijadikan salah satu syarat seorang perempuan bisa dinikahi.

Noken Papua terdiri dari berbagai jenis dan warna yang mewakili identitas suatu suku atau pembuatnya, meski begitu bahan yang digunakan tetaplah sama yakni menggunakan bahan baku yang diambil dari alam setempat, seperti sagu muda, kulit kayu atau batang bunga anggrek. Proses pembuatannya pun cukup rumit dan memakan waktu karena masih menggunakan cara tradisional. Sebagai permulaan, kayu diolah dengan dikeringkan, dipilah seratnya dan kemudian dipintal menjadi tali atau benang. Variasi warna yang terdapat pada Noken juga dibuat dengan pewarna alami, oleh karena itu pengerjaannya bisa mencapai 2 minggu hingga 1 bulan, tergantung dari tingkat kesulitan dan ukuran Noken.

FAKTA UNIK

Jika umumnya tas disangkutkan di pundak, masyarakat Papua terbiasa membawa Noken dengan menggantungkan talinya di kepala dan membiarkan tas menggantung di punggung. Jika membawa Noken lebih dari satu, maka mereka akan menggantung Noken secara bersusun mulai dari yang terbesar hingga terkecil.

Noken memiliki bentuk dan warna yang beragam, tergantung dari ciri khas masing-masing suku. Salah satu yang menarik perhatian ialah Noken emas yang hanya dibuat oleh pria Suku Mee dan memiliki harga selangit. Noken yang berwarna seperti emas disebut juga Toya Agiya.

Dalam tradisi suku Mee, Noken Toya Agiya hanya boleh dibuat atau dipakai oleh pria suku Mee. Tak boleh sembarang digunakan, hanya pria yang memiliki kekuasaan dan dari kalangan berada sajalah yang berhak mengenakannya. Noken emas sudah terbukti kuat, tidak mudah robek dan tahan lama. Harga dari Noken emas, sebanding dengan proses pembuatannya yang terbilang tidak mudah. Bahan baku utamanya adalah tanaman anggrek dalam hutan yang tumbuh di batang pohon tinggi, para pengrajin harus memanjat untuk mendapatkannya. Setelah itu, tanaman anggrek akan diolah dan dibentuk menjadi Noken yang memakan waktu hingga 3 bulan lamanya. Jika biasanya Noken dijual mulai dari harga ratusan ribu, Noken anggrek emas dibanderol dari harga 4 juta hingga belasan juta rupiah.

Pada dasarnya noken dimiliki oleh 250 suku bangsa di Papua dengan nama yang berbeda dari setiap suku. Ada yang menyebutnya Su menurut bahasa suku Hugula, jum dalam bahasa suku Dani, dan sum menurut suku Yali, agiya dituturkan oleh suku Mee, Ese berasal dari suku Asmat, Dump disebut suku Irarutu. Orang Serui menyebutnya rotang,aderi, atau kaketa, sedangkan suku Tabi/Sentani menyebutnya kangke atau koroboi. Dalam suku Ayamaru/Maybrat dan Ayvat, noken disebut eyu atau yuta. Suku Tehit bisa menyebut berbagai nama, seperti qya qsi, qya queri, dan iquiyabos. Orang Moi menyebutnya kwok, dan suku Moli menyebutnya naya.Source: Alice Salhuteru, Fred Keith Hutubessy,  he Transformation of Noken Papua: Understanding the Dynamics of Noken’s Commodification as the Impact of UNESCO’s Heritage Recognition, 2020.

TEASER SOSMED :

Noken Papua, bukan sekedar tas tapi juga mewakili identitas

Noken adalah sebutan untuk ragam nama tas serbaguna yang digunakan oleh lebih dari 250 suku di Papua dan masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia, UNESCO. Seorang perempuan Papua dikatakan dewasa jika dirinya sudah bisa membuat Noken. Bahkan, keahlian membuat kerajinan ini dijadikan salah satu syarat seorang perempuan bisa dinikahi.




REFERENSI :

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/noken-warisan-budaya-tanah-papua-yang-sarat-makna/ 

https://www.urbanasia.com/mengenal-noken-papua-tas-tradisional-yang-jadi-warisan-takbenda-unesco-U46739 

https://travel.detik.com/travel-news/d-5282694/apa-itu-filosofi-noken-papua-ini-macam-macam-dan-sejarahnya

 

Share the Post:

Related Posts