SENI TARI TOPENG CIREBON, MEDIA DAKWAH DI MASA LAMPAU

PROLOG

Membahas kebudayaan Jawa Barat yang kaya akan keberagaman, seakan tiada habisnya. Warisan yang ditinggalkan leluhur seolah terus berganti menunjukkan eksistensi dengan semakin riuhnya geliat seni di Jawa Barat pada masa sekarang. Salah satunya adalah tari topeng Cirebon, kesenian yang merupakan bentuk perpaduan unsur gerakan tari dan seni ukir topeng, erat dengan filosofinya yang mendalam tentang nilai kepemimpinan, cinta dan kebijaksanaan. 

TRADISI DAN KEPERCAYAAN SETEMPAT 

Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta berdasarkan kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha Majapahit. Banyaknya cerita yang beredar di masyarakat, menjadikan sejarah tari topeng Cirebon area abu-abu jika dibahas dengan mendetail. Namun, ada satu cerita paling populer yang dipercayai masyarakat setempat menjadi asal usul tarian topeng. 

Tari topeng dibuat pertama kali pada zaman Majapahit. Tarian ini populer di kalangan kerajaan yang menjadikannya hiburan tetap pada masa itu. Pasca jatuhnya kerajaan besar tersebut, tarian ini tetap dihidupkan oleh Sultan Demak yang mengagumi seni tari topeng dan digunakan sebagai kerangka konsep kekuasaan yang tetap lekat dengan spiritualisme. Pada masa kesultanan Demak juga, tari topeng akhirnya menyebar sampai ke Cirebon yang menjadikannya hiburan eksklusif bagi lingkungan Kesultanan Cirebon. Namun, seiring berjalannya waktu Raja-Raja Cirebon tidak memiliki dana memelihara semua kesenian keraton, termasuk tari topeng. Dampaknya, para penari dan penabuh gamelan mencari sumber pendapatan dari  luar keraton, hingga akhirnya tarian ini menjadi kesenian rakyat yang menyebar hingga ke pelosok Cirebon. 

Kesenian Cirebon yang satu ini tidak lepas dengan hal yang berbau mistis. Kepercayaan masyarakat setempat akan sakralnya seni tari topeng Cirebon pun seakan memiliki keterikatan yang erat. Hal ini terbukti dengan dilakukannya berbagai rangkaian ritual sebelum pementasan tari. Bahkan, umumnya para penari akan melakukan puasa, pantangan, hingga semedi sebelum menarikan tari topeng.

Sebelum pertunjukan, masyarakat percaya bahwa setidaknya harus disediakan dua sesaji. Dalam sesaji pertama, berisi bedak, sisir dan cermin yang melambangkan kelembutan perempuan. Sedangkan sesaji kedua, berisi cerutu dan rokok sebagai lambang maskulin lelaki. Selain itu, ada pula bubur merah yang bermakna simbol dunia manusia dan bubur putih sebagai lambang dunia atas. Rangkaian ritual dilakukan bertujuan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah menjaga tradisi dan kesenian yang syarat akan makna.

Setelah masuknya Islam pada masa Sunan Gunung Jati, Cirebon menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Lalu, tari topeng dijadikan media dakwah untuk mengenalkan agama Islam bersama dengan pertunjukan yang lain. 

FAKTA UNIK

Tari topeng memiliki 5 jenis topeng yang umum digunakan dalam pentas, dan dijuluki dengan nama Panca Wanda. Topeng Panca Wanda terdiri dari topeng Panji, Samba, Rumyang, Tumenggung dan Kelana. Topeng Panji, memiliki wajah yang putih bersih bermakna suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Sedangkan topeng Samba, memiliki karakter anak kecil dengan simbol keceriaan dan kelincahan. Masa dewasa diwakili oleh topeng Rumyang yang ditandai dengan gerakan yang semakin mantap mendekati kemapanan. Setelahnya yaitu topeng Tumenggung yang bermakna manusia yang memasuki fase kehidupan, masa kemapanan dan kematangan yang sempurna. Dan yang terakhir, topeng Kelana menggambarkan tabiat seseorang yang sedang dalam amarah. Saat mengenakan topeng kelana, penari akan melakukan koreografi dengan ciri gerakan tubuh yang energik, lincah dan bersemangat. Gerak tari topeng Kelana menggambarkan tabiat buruk dari manusia yang serakah, penuh amarah dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu.

REFERENSI :

https://kemenparekraf.go.id/ragam-ekonomi-kreatif/Tari-Topeng-Cirebon,-Tarian-Adat-yang-Kaya-Nilai-Filosofis

https://www.cirebonkota.go.id/pariwisata/kesenian-daerah/topeng-cirebon/

Share the Post:

Related Posts