PROLOG
Indonesia memang dikenal sebagai negara yang mempunyai keragaman suku, bhasa, dan kebudayaan yang sangat kaya. Salah satunya adalah Boneka Sigale-gale asal Sumatera Utara yang merupakan sebuah pertunjukan kesenian unik dari daerah Samosir. Sigale-gale bukan boneka seperti mainan anak pada umumnya, namun berupa patung boneka berbentuk manusia yang digerakkan oleh seorang dalang, dengan diiringi alat musik tradisional, mirip seperti pertunjukan wayang kulit di daerah Jawa.

TRADISI DAN KEPERCAYAAN SETEMPAT
SEJARAH BONEKA SIGALE-GALE LEKAT DENGAN KESAN MISTIS
Boneka Sigale-gale ini lekat dengan kesan mistis karena dipergunakan pada upacara kematian untuk orang-orang yang meninggal tanpa mempunyai anak, maupun yang meninggal tanpa memiliki keturunan. Hal ini dilakukan dengan tujuan menyambung keturunan mereka kelak di alam baka. Sebab di masyarakat Batak Toba, apabila seseorang yang mempunyai kedudukan meninggal dunia dan ia tidak mempunyai keturunan, maka akan dipandang rendah dan tidak membawa kebaikan. Oleh karena itulah, biasanya kekayaan yang ditinggalkannya itu akan dihabiskan untuk mengadakan upacara Sigale-gale.
Ketika menjadi bagian dari upacara kematian ini pun Sigale-gale diyakini bisa mengeluarkan air mata bahkan menari. Masyarakat setempat percaya bahwa tarian Sigale-gale dapat mengantarkan arwah mendiang ke alam baka.
FAKTA UNIK
AWALNYA PERWUJUDAN PUTRA RAJA DARI SAMOSIR
Sebelum menjadi bagian dari upacara adat, asal muasal boneka ini dipercaya sebagai perwujudan putra dari Raja Rahat, pemimpin salah satu kerajaan pulau Samosir. Sang Putra Raja yang bernama Manggale, konon tewas di medan perang dan jasadnya tak pernah ditemukan. Akibatnya, Raja Rahat yang kehilangan putra kesayangan yang bakal menjadi penggantinya ini dirundung kesedihan dan sering sakit-sakitan. Oleh karena itu, Raja Rahat lalu memanggil pemahat terbaik di kerajaan untuk membuat boneka kayu yang menyerupai putranya itu. Kemudian, digelar ritual dengan meniup sordam dan memainkan gondang sabangunan untuk memanggil dan memasukkan roh Manggale ke dalam patung. Patung ini pun diangkut menuju istana dengan iringan sordam dan gondang, hingga membuat Raja Rahat pulih dari sakitnya. Sejak saat itulah, akhirnya masyarakat Batak menyebut patung tersebut sebagai Sigale-gale, yang diambil dari nama putra raja.
Namun nahas, setiap orang yang membuat boneka Sigale-gale harus siap menyerahkan jiwanya agar boneka tersebut dapat bergerak selayaknya manusia hidup. Untuk mencegah hal tersebut, pembuatan patung Sigale-gale harus dilakukan secara terpisah oleh orang yang berbeda. Mereka ada yang mengerjakan bagian tangan, kaki, kepala, atau badan sehingga tidak ada tumbal yang jatuh.
SIGALE-GALE DI ZAMAN SEKARANG
Pada masa sekarang, upacara Sigale-gale sudah banyak ditinggalkan dan hanya menjadi pertunjukan bagi wisatawan karena dianggap sebagai upacara keagamaan parbegu, suatu upacara yang didasarkan pada kepercayaan terhadap Begu atau roh dari orang yang sudah meninggal. Pada pertunjukan ini pun terdapat beberapa benang untuk menggerakkan tubuh Sigale-gale yang konon jumlahnya sama dengan urat yang ada di tubuh manusia. Tak hanya ditampilkan patung kayu seukuran manusia, dalam setiap pertunjukan dibuatkan Sigale-gale berukuran raksasa sambil mengikuti irama gondang.
Inilah yang akhirnya membuat boneka Sigale gale sebagai identitas budaya pulau Samosir.
https://petabudaya.belajar.kemdikbud.go.id/Repositorys/si_gale_gale/
https://kumparan.com/dukun-millennial/misteri-boneka-sigale-gale-1tUudRUklve/1
https://www.liputan6.com/regional/read/4061279/cerita-patung-menari-sigale-gale-dari-pulau-samosir


