PROLOG
Kain tenun telah menjadi identitas tak terpisahkan dari banyak suku di Indonesia, teknik tradisional yang sempurna berpadu apik dengan nilai sacral ajaran leluhur membuat kain tenun di nusantara tidak ada tandingannya.
Salah satunya ialah Kain Tenun Bentenan asal Sulawesi Utara. Kain yang tak hanya memiliki nilai estetika tapi dikenal sebagai salah satu kain sakral nan langka khas tanah Minahasa.


TRADISI DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT SETEMPAT
Pada awalnya, Kain Bentenan merupakan kain tradisional karya Suku Minahasa yang telah ada sekitar abad ke-7. Kain ini berbahan dasar serat kayu yang disebut Fuya, diambil dari pohon Lahendong dan Pohon Sawkouw. Selain itu, ada juga Koffo (serat nanas & pisang) dan serat bambu yang kemudian ditenun dengan cara yang tradisional. Lalu sekitar abad ke-15, Suku Minahasa mulai menenun dengan benang katun. Hasil tenunan dari benang inilah kemudian menjadi cikal bakal Kain Tenun Bentenan yang pengerjaannya dilakukan di Desa Bentenan, sebuah daerah di Pantai Timur Minahasa Selatan. Menurut sejarah, karena lokasinya yang sering menjadi tempat berlabuh sementara para pelaut, keahlian menenun yang dimiliki oleh masyarakat Minahasa konon didapat dari para pelaut Filipina yang transit dan menetap di Desa Bentenan selama berbulan bulan. Nama Kain Tenun Bentenan sendiri menjadi populer ketika mulai diperjualbelikan ke luar Minahasa melalui pelabuhan pulau Bentenan, Kabupaten Minahasa. Bahkan keberadaannya dipercayai memegang peranan cukup penting dalam perdagangan di Nusantara dari abad ke-7 hingga abad ke-15.
Kain Tenun Bentenan, merupakan kain sakral khas Minahasa. Dikatakan sakral karena kain ini hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu dan pada waktu yang ditentukan. Sebelum proses pembuatan dimulai, biasanya diadakan semacam ritual melalui lantunan lagu Ruata dan doa yang dipanjatkan kepada para leluhur. Dahulu, Kain Bentenan merupakan pakaian para pemimpin adat (Tonaas) dan pemimpin agama (Walian) dalam berbagai upacara adat seperti upacara membangun rumah, menentukan masa tanam, sampai berperang. Kain ini juga digunakan dalam berbagai upacara daur hidup sebagai kain pembungkus bayi yang baru lahir, upacara pernikahan, juga pembungkus jenazah bagi kalangan tertentu. Dalam upacara tersebut, Walian dan Tonaas akan memohon perlindungan pada Opo-Opo (dewa) dengan membaca mantra khusus demi lancarnya sebuah hajat atau simbol pengharapan dalam hidup.
FAKTA UNIK
Masuknya para misionaris Belanda pada zaman penjajahan mengakibatkan keberadaan Kain Tenun Bentenan lambat laun mulai dilupakan. Penyebaran agama yang dianut oleh orang Belanda memberikan pengaruh besar terhadap Kain Tenun Bentenan yang biasa digunakan untuk ritual dan upacara keagamaan adat Suku Minahasa. Selain itu, penggunaannya dianggap kuno dan kurang modern sehingga banyak orang lebih memilih pakaian modern seperti orang Belanda. Dalam beberapa literatur dituliskan bahwa kain ini terakhir ditenun pada akhir abad 18. Kain Tenun Bentenan bahkan sempat “menghilang” tidak diproduksi selama lebih dari 200 tahun. Tak mengherankan apabila jumlah Kain Tenun Bentenan antik sampai saat ini tidak sampai sepuluh buah di dunia. Bahkan di Museum Nasional tersimpan tenun bermotif patola, yang merupakan Kain Tenun Bentenan satu-satunya di dunia yang bermotif patola.
Perjalanan untuk menghasilkan sehelai Kain Tenun Bentenan melalui proses yang cukup panjang. Kain ini dibuat dengan teknik ikat yang rumit, dimulai dari pemintalan benang, pengikatan dan pewarnaan benang, lalu penjemuran. Selanjutnya kain akan ditenun tanpa terputus sampai berbentuk silinder dengan alat tenun tradisional. Dengan rumitnya teknik tenun, proses pembuatannya bisa memakan waktu yang cukup lama. Uniknya, warna-warni yang terdapat dalam corak motif Kain Tenun Bentenan terbuat dari bahan alami. Seperti Semak Lenu (sejenis buah) untuk menciptakan warna kuning dan akan menjadi merah ketika dicampur dengan air kapur sirih. Lelenu (daun berwarna magenta) untuk membuat warna merah. Daun Sangket yang kulitnya menghasilkan warna hitam. Dan tium, sejenis tanaman merambat untuk penghasil warna hijau dan biru.
TEASER : KAIN TENUN BENTENAN, MAHAKARYA SAKRAL KHAS MINAHASA
Kain Tenun Bentenan merupakan kain sakral yang digunakan untuk ritual upacara adat Suku Minahasa. Tenun ini konon sempat “menghilang” selama 200 tahun dan membuat jumlahnya hanya ada 10 di dunia. Bahkan salah satu motifnya dipercaya hanya ada 1 di dunia yang kini tersimpan di salah satu museum di Indonesia.
SUMBER :
https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=668
https://www.agendaindonesia.com/tenun-bentenan-minahasa-dari-abad-ke-7/
https://www.museumnasional.or.id/mahakarya-dari-minahasa-1862


