TENUN ULAP DOYO, TENUN KHAS DAYAK YANG SARAT MAKNA FOLOSOFIS

PROLOG

Pulau Kalimantan, sebagian besarwilayah daratanya dipenuhi oleh hutan lebat, menyimpan kekayaan alam untuk kebutuhan warganya sehari-hari, termasuk bagi Suku Dayak Benuaq. Tak hanya kebutuhan pangan, warga suku yang kesehariannya hidup berdampingan dengan alam, memenuhi kebutuhan sandangnya pun bersumber dari hutan. Termasuk pakaian tradisional yang sudah selama berabad abad dibuat dari bahan serat tumbuhan dan pewarna alami, yakni kain Tenun Ulop Doyo. Selain menjadi fungsi estetika pakaian, kain tenun yang menjadi identitas bagi Suku Dayak Benuaq ini, konon memiliki daya magis yang mampu membuat siapapun terhindar dari sihir ilmu hitam. 

TRADISI DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT SETEMPAT

Menurut sejarah, kain Tenun Ulap Doyo sudah berumur hingga berabad-abad lamanya. Hal ini diperkuat dengan temuan motif pada sebuah penelitian antropologi yang sama dengan keberadaan kerajaan Hindu terbesar di Kalimantan, yaitu Kerajaan Kutai. Selain motif, persamaan juga terletak dari strata sosial masyarakat yang memakainya. Hal ini sesuai dengan pengelompokkan kelas dan strata di masyarakat yang terkenal pada masa kerajaan Kutai. 

Selain sejarah, keunikan kain Tenun Ulap Doyo juga terletak dari bahan dan proses pembuatannya yang masih menggunakan metode tradisional. Ulap doyo merupakan jenis tenun ikat berbahan serat daun doyo (Curliglia latifolia). Daun ini berasal dari tanaman sejenis pandan yang berserat kuat dan tumbuh di pedalaman Kalimantan, salah satunya di wilayah Tanjung Isuy, Jempang, Kutai Barat. Konon, pohon doyo ini hanya boleh ditanam oleh perempuan, sehingga pantang dikerjakan oleh lelaki karena dapat melanggar hukum adat. Agar dapat digunakan sebagai bahan baku tenun, daun ini harus dikeringkan dan disayat mengikuti arah serat daun hingga menjadi serat yang halus. Serat-serat ini kemudian dijalin dan dilinting hingga membentuk benang kasar.

Untuk menghasilkan kain yang lebih menarik, benang daun doyo biasanya diberi warna menggunakan pewarna alami dari tumbuhan. Warna yang umum ditemukan antara lain merah, cokelat dan hitam. Warna merah berasal dari buah glinggam, kayu oter, dan buah londo. Adapun warna cokelat diperoleh dari kayu uwar. Sedangkan warna hitam biasanya didapat dari daun putri malu, umbi kunyit, getah akar atau dari pembakaran damar yang dicampur dengan cairan hitam pekat yang berasal dari tumbuhan. 

Konon, pengelompokkan warna pun tidak sembarangan karena mengandung makna simbolik dan tujuannya tersendiri. Terutama warna hitam yang biasa menempel pada daster atau sarung, dipercaya memiliki kemampuan menolak sihir ilmu hitam atau bala. Sedangkan warna hitam bergaris putih, melambangkan pemakainya bisa mengobati segala bentuk sihir dan penyakit. Disamping itu, estetika ragam motifnya juga memiliki filosofi tersendiri. Seperti motif naga yang melambangkan kecantikan wanita, motif perahu yang melambangkan kerjasama, motif harimau yang melambangkan keperkasaan pria, dan motif tangga rebah yang melambangkan perlindungan usaha dan kerjasama di masyarakat. 

Untuk proses pembuatan Tenun Ulap Doyo, dimulai dengan menyusun corak yang sesuai menggunakan alat bernama Ngorak Utah yaitu dua buah tiang tegak lurus yang ditancapkan pada sebuah balok berukuran besar, sehingga dapat berdiri kokoh. Kemudian untuk menjaga kestabilan, dipasangkan alat bantu yang terbuat dari bambu dan dilubangi di bagian ujungnya. Setelah alat siap, benang-benang Doyo disusun pada kedua tiang tersebut lalu diikat ujungnya dan dibagi kedalam beberapa bagian sesuai dengan jumlah lipatan kain yang diinginkan. 

Setelah seluruh proses selesai, barulah disusun ke dalam alat pembuat pola dan masuk ke tahap pewarnaan. Dalam prosesnya, pewarnaan pun harus berurutan mulai dari warna paling terang terlebih dahulu lalu berlanjut sampai akhir di warna yang paling gelap. Apabila proses pewarnaan selesai, benang-benang tersebut lalu dijemur sampai kering kemudian dikencangkan kembali pada alat pengencang sembari diteliti motif dan susunan benangnya. Terakhir, benang-benang tersebut dipasang pada  alat tenun dan proses menenun pun dapat dilakukan sampai benang doyo menjadi kesatuan dalam kain Tenun Ulap Doyo.

FAKTA UNIK

Tenun Ulap Doyo diwariskan secara turun temurun melalui sebuah proses yang unik. Kaum wanita Dayak Benuaq mulai menguasai proses pembuatan tenun ini sejak usia belasan tahun tanpa melalui proses latihan. Mereka menguasai teknik ini, hanya dengan melihat proses kerja para wanita yang lebih tua seperti ibu dan sesepuh mereka secara berulang-ulang. Karena cara mempelajari keterampilannya yang unik, maka hampir dipastikan sulit menemukan orang yang bisa membuat Tenun Ulap Doyo di luar Suku Dayak Benuaq.

TEASER : TENUN ULAP DOYO, KAIN MAGIS DAYAK PENANGKAL ILMU HITAM

Kalimantan yang menyimpan keanekaragaman hayati, juga tak lepas dari sisi warganya yang masih hidup dengan cara tradisional. Salah satunya adalah warga Suku Dayak Benuaq. Memenuhi kebutuhan keseharian dengan bergantung pada alam, suku ini memiliki pakaian berupa kain tenun dengan bahan dasar tumbuhan yang selama berabad-abad dipercaya dapat menangkal segala ilmu sihir. 



SUMBER : 

https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/ulap-doyo-nilai-kearifan-lokal-dalam-tenun-warisan-dayak-benuaq/

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/ulap-doyo/

https://id.theasianparent.com/ulap-doyo

https://koropak.co.id/17518/ulap-doyo-seni-kerajinan-tekstil-masyarakat-benuaq

Share the Post:

Related Posts